Penerapan Weighted Overlay Pada Pemetaan Tingkat Probabilitas Zona Rawan Longsor di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

  • Muhammad Farhan Yassar Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Lampung
  • Muhammad Nurul Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Lampung
  • Nisrina Nadhifah Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Lampung
  • Novia Fadhilah Sekarsari Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Lampung
  • Rafika Dewi Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Lampung
  • Rima Buana Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Lampung
  • Sarah Novita Fernandez Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Lampung
  • Kirana Azzahra Rahmadhita Program Studi Analisis Kimia, Sekolah Vokasi, Institut Pertanian Bogor
Keywords: bencana, longsor, mitigasi, pembobotan, pemetaan

Abstract

Kabupaten Sumedang berada pada wilayah pegunungan dan perbukitan sehingga meningkatkan kemungkinkan untuk terjadinya bencana tanah longsor yang dapat menimbulkan kerugian baik secara materi ataupun nonmateri. Untuk mencegah dan meminimalisir dampak dari bencana tersebut diperlukan pengetahuan mendetail mengenai bencana tanah longsor itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk melakukan pemetaan dan memberikan informasi tentang wilayah-wilayah yang mempunyai kerawanan terjadinya bencana longsor di Kabupaten Sumedang yang kemudian diharapkan hasil dari penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam melakukan upaya mitigasi serta diharapkan dapat meminimalkan dampak yang diakibatkan jika terjadinya bencana tanah longsor pada wilayah Kabupaten Sumedang. Penelitian ini memanfaatkan metode skoring, weighting dan overlay yang terdapat pada SIG dalam melakukan pemetaan daerah rawan longsor dengan mengacu terhadap nilai dan parameter yang dikeluarkan oleh Puslittanak 2004. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diketahui bahwa Kabupaten Sumedang didominasi oleh jenis tanah alluvial, jenis batuan vulkanik, kemiringan lereng dengan kisaran 15-30%, dan memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Hasil analisis yang dilakukan didapatkan bahwa Kabupaten Sumedang memiliki tingkat kerawanan longsor yang berada pada kategori sedang sampai dengan tinggi.

References

Ariani, K. A. (2017). Tingkat Kerawanan Tanah Longsor Di Dusun Landungan Desa Guntur Macan Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 102(4), 24–25.

Damanik, M. R. S., & Restu. (2012). Pemetaan tingkat risiko banjir dan longsor Sumatera Utara berbasis sistem informasi geografi. Jurnal Geografi, 4(1), 29–42.

Djuri. (1995). Peta Lembar Arjawinangun, Jawa Barat. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Faizana, F., Nugraha, A., & Yuwono, B. (2015). Pemetaan Risiko Bencana Tanah Longsor Kota Semarang. Jurnal Geodesi Undip, 4(1), 223–234.

Hutomo, I. A., & Maryono, M. (2016). Model Prediksi Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor di Kecamatan Karangkobar. Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota, 12(3), 303.

Martodjojo. (2003). Evaluasi Cekungan Bogor Jawa Barat. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Nugraha, A. L. (2013). Penyusunan dan Penyajian Peta Online Risiko Bencana Banjir Rob Kota Semarang. Yogyakarta: Teknik Geomatika Universitas Gajah Mada

Puslittanak Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. (2004). Laporan Akhir Pengkajian Potensi Bencana Kekeringan, Banjir dan Longsor di Kawasan Satuan Wilayah Sungai Citarum-Ciliwung, Jawa Barat Bagian Barat Berbasis Sistem Informasi Geografi. Bogor

Rahman, A. (2010). Penggunaan Sistim Informasi Geografis untuk Pemetaan Kerawanan Longsor di Kabupaten Purworejo. Bumi Lestari, 10(2).

Rahmi, A. (2012). Analisa Pengaruh Curah Hujan Terhadap Kejadian Tanah Longsor Di Ulu Klang Malaysia. Jurnal Aptek, 4, 65.

Ramadhani, N. I., & Idajati, H. (2017). Identifikasi Tingkat Bahaya Bencana Longsor, Studi kasus: Kawasan Lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jurnal Teknik ITS, 6(1), 87–90.

Santoso, H. (2012). Aplikasi “SSOP BANTAL” Berbasis DAS untuk penanggulangan banjir dan tanah longsor. Journal Penanggulangan Bencana, 3(1), 43–54.

Silitonga. (2003). Peta Geologi Indonesia, Lembar Bandung, Jawa Barat. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi

Sitepu, F., Selintung, M., & Harianto, T. (2017). Pengaruh Intensitas Curah Hujan dan Kemiringan Lereng Terhadap Erosi Yang Berpotensi Longsor. Jurnal Penelitian Enjiniring, 21(1), 23–27.

Sugianti, K., & Mulyadi, D. (2014). Pengklasan Tingkat Kerentanan Gerakan Tanah. 24(2), 93–104.

Van Bemmelen, R. W. (1949). The Geology of Indonesia. General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes. In Government Printing Office, The Hague (pp. 545–547; 561–562).

Wang, F., Xu, P., Wang, C., Wang, N., & Jiang, N. (2017). Application of a gis-based slope unit method for landslide susceptibility mapping along the longzi river, southeastern tibetan plateau, China. ISPRS International Journal of Geo-Information, 6(6).

Wesley, L. D. (2010). Geotechnical Engineering in Residual Soils. New Jersey: John Wiley and Sons, Inc.

Yuniarta, H., Saido, A. P., & Purwana, Y. M. (2015). Kerawanan bencana tanah longsor kabupaten ponorogo. Matriks Teknik Sipil, 3(1), 194–201.

Zakaria, Z. (2010). Model Starlet, suatu Usulan untuk Mitigasi Bencana Longsor dengan Menggunakan Pendekatan Genetika Wilayah (Studi Kasus: Longsoran Citatah, Padalarang, Jawa). Indonesian Journal on Geoscience, 5(2)

Published
2020-05-07
How to Cite
Yassar, M. F., Nurul, M., Nadhifah, N., Sekarsari, N. F., Dewi, R., Buana, R., Fernandez, S. N., & Rahmadhita, K. A. (2020). Penerapan Weighted Overlay Pada Pemetaan Tingkat Probabilitas Zona Rawan Longsor di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Jurnal Geosains Dan Remote Sensing, 1(1), 1-10. https://doi.org/10.23960/jgrs.2020.v1i1.13