Zonasi Distribusi Tanaman Hutan di Taman Nasional Gunung Semeru Berdasarkan Integrasi Nilai Indeks Vegetasi dan Digital Elevation Model
Abstract
Penelitian ini menggunakan ilmu penginderaan jauh, yang mana memungkinkan kita dapat melakukan penelitian tanpa harus datang langsung ke lokasi dan diharapkan mendapatkan data yang memiliki cakupan yang luas dari citra satelit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persebaran vegetasi berdasarkan ketinggian tempat dan nilai indeks vegetasi pada TN-BTS. Data dalam penelitian ini adalah citra Landsat 8 bulan November 2019 dan data ketinggian dari DEMNAS. Data tersebut diolah dengan menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan reklasifikasi ketinggian kedalam tiga zona ketinggian, antara lain sub-montana, montana dan sub-alpin. Integrasi kedua data tersebut akan menghasilkan peta distribusi tanaman hutan terhadap ketiga zona ketinggian. Studi menunjukkan bahwa semakin bertambahnya ketinggian tempat akan diikuti dengan pengurangan nilai NDVI. Ini menunjukkan bahwa berkurangnya vegetasi baik kerapatan, jenis dan kualitas tumbuhnya. Demikian halnya dengan semakin rendah suatu ketinggian tempat akan diikuti dengan tingginya nilai NDVI dan vegetasi yang nampak akan lebih rapat dan lebih beragam jenisnya. Tetapi, nilai NDVI hanya mempunyai sedikit pengaruh terhadap zonasi ketinggian. Hasil yang diharapkan dari studi ini adalah menunjukkan karakteristik utuh dari hubungan NDVI dengan ketinggian pada ketiga zona yang dikaji.
References
Agc Indonesia. (2010). Retrieved Desember 24, 2019, from https://www.gambar.pro/2010/05/ 82-gambar-hutan-hujan-pegunungan-rendah .html.
Alfarisi. (2012). Vegetasi Hutan Wanagama. Retrieved November 2019, 20, from http://agricultureforlife.blogspot.co.id/2012/07/.
Arhamsyah, D. (2015). Hutan Pegunungan. Medan: Media Angkasa.
Barr, C., Wollenberg, E., Limberg, G., Anau, N., Sudana, M., Moeliono, M., & Djogo. T. (2001). The: Impacts of Decentralisation on Forest and F orest-Dependent Communities in Malinau District, East Kalimantan. Case Studies on Decentralisation and Forest in Indonesia. Case Study 3. CIFOR
Departemen Kehutanan. (2009). Profil Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Malang: Departemen Kehutanan Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam
Desmann, R. F. (1977). Prinsip Ekologi untuk Pembangunan Ekonomi. Penerjemah: Sumarwoto, O. Jakarta: P.T. Gramedia
Fatma, D. (2017). Klasifikasi Iklim Junghuhn. Jakarta: Ilmu Geografi.
Ghazoul J., & Sheil D. (2010). Tropical Rain Forest Ecology, Diversity and Conservation. Oxford: Oxford Univ. Press.
Lillesand & Kiefer. (1997). Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Dulbahri (Penerjemah). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Mackinnon, K. G. (2000). Ekologi Kalimantan Buku III. Jakarta : Prenhallindo.
Marsono, D. (1977). Deskripsi Vegetasi dan Tipe- tipe Vegetasi Tropika. Yayasan Pembina Fakultas Kehuatanan UGM.
Rouse, J. W., Haas, R. H., Schell, J.A., & Deering, D.W. (1974). Monitoring vegetation systems in the Great Plains with ERTS. Paper presented at the 3rd ERTS-1 Symposium, Greenbelt, Maryland.
Ryan, L. (1997). Creating a Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) image Using MultiSpec. University of New Hampshire.
Suastini, (2015). Klasifikasi Iklim Junghuhn. Jakarta: Angkasa Indah
Sulistyono. (1995). Pengaruh tinggi tempat terhadap Pinus merkusii Jungh et de Vriese di KPH Probolinggo Perum Perhutani Unit II Jawa Timur.
-
views: 2608  
downloads: 4292
Copyright (c) 2020 Aqilla Fitdhea Anesta, Angga Febry Fatman, Mamad Sugandi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




.png)
.png)
